Alloh Naikkan Derajat
Manajemen Kerugian
11 April 2018
Wisatahati Gelar Workshop Tikrar
17 April 2018

Kemenangan mereka yang mau menghiasi awal paginya dengan tahajjud adalah bahwa Allah yang mengangkat derajatnya. Membantu derajatnya keangkat. Menaikkannya ke higher level. Ke level yang lebih tinggi, lebih tinggi, lebih tinggi. Dan bila ia istiqomah, maka kenaikan derajat ini hingga kemudian saat bertemu Allah. Ia akan di sisi Allah dan Rasul-Nya. Subhaanallaah. Allahu akbar. Semoga saya pun termasuk di dalamnya. Aamiin ya..

Ibarat sebuah acara. Semakin posisi kita tinggi, maka kita semakin di depan duduknya. Semakin ada di deket Pak Ketua atau Ibu Ketua. Semakin kita menjadi orang penting yang bagus derajatnya, maka kehadirannya semakin ditunggu. Kehadirannya semakin dicari. Yang kalau kita tidak ada bakal dicari, disesali kalau tidak datangnya. Dan saat hadir, orang-orang akan bahagia dan membahagiakan orang-orang. Semakin kita adalah orang penting¸yang derajatnya tinggi, orang-orang akan menunggu di luar ruangan. Menanti kedatangan kita. Sebagai penghormatan dan bentuk penantian panitia dan orang-orang di acara tersebut.

Ibarat sebuah acara. Dulu saya suka melihat orang-orang berada di panggung utama. Hati suka berdesis, hmmm… Kapan saya bisa bisa di atas panggung? Bersama orang-orang hebat…? Dan berusahalah. Supaya bisa ke panggung. Miliki kebisaan. Kemampuan. Supaya kemudian bisa naik ke panggung. Naik derajat, hehehe. Tadinya di bawah. Terus jadi ke panggung. Mulailah dari belajar ngaji lagu, lalu kemudian jadi pembaca Qur’an. Akhirnya naik ke panggung.

Orang-orang memberi selamat kepada sebagian yang lain. “Selamat ya. Atas promosi Doktornya.” “Selamat ya. Atas pengangkatan Saudara jadi manajer area.” “Selamat ya, atas dilantiknya Saudara menjadi Jendral bintang satu, dua, tiga, empat…” dan ucapan-ucapan lain yang menunjukkan perubahan, perbaikan, peningkatan.

Lihatlah wajah saudara-saudara dan kerabat yang diundang peresmian atau tasyakur rumah baru. Sedang mereka tau bahwa Saudara itu hidupnya susah. Ngontrak rumah aja bisa bayarnya di tanggal 47.

Hehehe. Emangnya ada tanggal 47? Ada. Yakni udah lewat 16 atau 17 hari dari tanggal 30 atau 31. Hehehe.

Lalu mereka, orang-orang sekitar, diundang oleh Saudara untuk ke rumah baru Saudara. Mereka melihat kerja keras Saudara. Mereka mengakui dan menghargai. Mereka datang dengan bahagia. Mereka mengucapkan selamat. “Keren rumahmu Mas…” “Bagus sekali nih rumah…” “Alhamdulillah hidup Kamu berubah, Mbak…”

Lihatlah episode demi episode kehidupan seorang anak manusia. Perubahan adalah sebuah sunnatullahnya kehidupan. Tapi ada yang kemudian berubah hina. Jangan sampe dah. Na’uudzu billaah min dzaalik. Jangan sampe jadi terhina. Jangan sampai turun derajat.

Seorang yang berkarir dari bawah sekali… Dari juru ketik. Dari pesuruh. Dari tukang antar ini antar itu… Dia naik teruuuuuuss, hingga kemudian ke level pimpinan. Bahkan dipercaya membidani satu perusahaan baru. Misalnya. Maka semua itu adalah bentuk kenaikan derajat juga. Walau aromanya masih aroma derajat di dunia, tapi insyaaAllah, dunia pun tetap kudu diusahakan oleh semua hamba Allah, dan ummatnya Nabi. Asal jangan hanya berbau dunia, beraroma dunia. Tapi harus juga berbau akhirat, beraroma akhirat.

Maka, mengawali pagi dengan shalat malam, sungguh, ada Janji Allah. Kelak kita akan belajar tentang Janji Allah ini. Betapa Allah berjanji, akan mengangkat derajat, kemuliaan, martabat, kehidupan, mereka-mereka yang mau shalat malam. Hingga ke derajat yang lebih tinggi. Hingga ke kemuliaan yang lebih tinggi. Hingga ke kehidupan dan kedudukan, yang lebih tinggi. Lebih bagus. Lebih menyenangkan, lebih menentramkan, lebih membahagiakan, lebih menenangkan.

Semoga materi demi materi di SMI, bisa kemudian membuat kita menjadi manusia-manusia yang lebih baik lagi. Termasuk saya dkk admin semua. Aaamiin.

Ke depan, kita juga harus menugasi diri kita sendiri untuk tidak sendirian bangun malam. Seperti sifat SMI, gerak menggerakkan. Berubah dan mengubah. Memperbaiki diri dan memperbaiki lingkungan. Dan di urusan tahajjud, bangun dan membangunkan. Ga apa-apa. Pelan-pelan. Sambil kita belajar ilmunya, dan mengistiqomahkan bangun malam sebagai kebiasaan seperti kita makan dan minum.

Ga ada kehidupan kalau kita tidak bangun malam, sebagai awal pagi sekali dari kehidupan kita sebagai manusia.

Aamiin.

Salam, @yusuf_mansur

Sumber : yusuf mansur .com

s2Member®
Visit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram